//5T4T3
Divestasi Freeport Indonesia Diharapkan Melalui IPO

Nama : Grasberg ;Lokasi : Papua, Indonesia ;Penambang : PT Freepot Indonesia ;Produksi : 1.440.000 ons (tahun 2011)
Cadangan : 29,8 juta ons emas dan 2,35 miliar ton material bijih atau ore yang mengandung mineral berharga. ;Jumlah tenaga kerja : 20.000 orang ;Keterangan : – Tambang emas ini menjadi pro dan kontra bukan hanya dari sisi lingkungan saja tapi hasil yang didapat dari tambang ini tidak berdampak besar bagi kehidupan rakyat berbanding jauh dengan hasil yang emasnya.
– Cadangan emas di Papua yang mencapai 29,8 juta ons ini merupakan cadangan terbesar atau mencakup 95 persen dari total cadangan emas Freeport di dunia. ;- Perusahaan tambang yang berinduk di Amerika Serikat (AS) ini kontraknya akan habis pada 2021. Dan sedang menunggu kepastian pemerintah, agar kontrak bisa diperpanjang hingga 2041. ;Sumber foto : dakwatuna.com

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa Efek Indonesia menilai PT Freeport Indonesia sebaiknya melantai di bursa saham sehingga memberikan kesempatan yang besar bagi rakyat Indonesia untuk memiliki saham perusahaan kakap tersebut.

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio mengatakan rakyat Indonesia merupakan stakeholder terbesar di Tanah Air.

“Jadi berikan dong kesempatan rakyat indonesia untuk menikmati pemerataan pemilikan pendapatan melalui pemilikan dan cara paling gampangnya di pasar modal,” ujarnya, Rabu (30/8/2017).

Tito melanjutkan cara itu juga bisa menjaga PT Freeport Indonesia dari tangan-tangan asing. “Kalau satu tahun asing gak boleh beli, dua tahun gak boleh beli, itu bisa dibikin.”

Selain pemerataan kepemilikan dari pasar modal, Tito berpendapat lembaga pemerintahan yang memiliki efek langsung terhadap kesejahteran masyarakat juga harus diberikan kesempatan untuk memiliki saham Freeport.

Lembaga yang disebutnya sebagai eligble party itu antara lain Badan Penyelengaran Jaminan Sosial (BPJS), PT Taspen, hingga dana pensiun rakyat Papua.

“Lembaga-lembaga itu kalau maju semua senang, semua rakyat Indonesia bisa langsung merasakannya,” jelas Tito.

Lebih lanjut Tito mengatakan dirinya pernah mengajak PT Freeport Indonesia untuk go public. Kala itu, Freeport hanya mengatakan semua keputusan itu tergantung pemegang saham perusahaan.

“Keuntungan go public itu semua jadi transparan. Sudahlah kalau hal-hal yang menjadi perdebatan politik lebih baik go public,” paparnya.

Seperti yang diketahui, pemerintah Indonesia dan Freeport-Mcmoran menyepakati divestasi saham PT Freeport Indonesia sebesar 51% ke pada pihak nasional Indonesia.

Iklan

Komentar ditutup.

Arsip

Blog Stats

  • 414.174 hits

Map MyVisitor

Flags MyVisitors

free counters

Iklan
%d blogger menyukai ini: