//5T4T3
archives

moneydreams

This category contains 13 posts

Bisnis Ritel Ngak Ada Matinya

Pasar Terapung

JAKARTA, KOMPAS.com – Fenomena gugurnya sejumlah ritel ternama belakangan ini tidak langsung membuat para pengusaha pesimistis.

https://shopee.co.id/syafrildjaelani

Buat sebagian dari mereka, peristiwa tersebut harus disikapi dengan baik dan dijadikan kesempatan untuk berinovasi, memperbaiki layanan, dan mengetahui minat konsumen masa kini.

CEO Sogo Department Store Handaka Santosa dalam sebuah diskusi di Hotel Ibis, Jakarta Barat pada Rabu (1/11/2017) mengungkapkan pihaknya masih optimistis dengan kondisi saat ini ketika ritel seperti Lotus yang sudah berdiri lama akhirnya tutup.

Dia bahkan melihat ada perubahan minat konsumen yang harus dipelajari lebih lanjut oleh para pengusaha.

(Baca: Ritel Modern Berguguran, Asosiasi Minta Pengusaha Pemasok Tidak Panik)   https://www.tokopedia.com/ichabela

“Sekarang minat konsumen lebih ke leisure. Banyak orang ke mal atau pusat perbelanjaan lebih suka untuk makan dan minum, jadi kami berpikir apa yang harus dilakukan supaya tetap bisa menarik minat belanja, salah satunya dengan memberikan pengalaman dalam menyajikan barang di toko,” kata Handaka.

Logika yang dipakai Handaka adalah, pembeli akan datang jika dagangan yang dijajakan menarik.

Hal itu memperlihatkan bahwa masih ada kesempatan untuk pengusaha ritel mempertahankan eksistensinya, terlebih daya beli masyarakat dianggap masih bisa meningkat karena setiap tahun pendapatan melalui upah minimum provinsi (UMP) terus naik.

Selain menyajikan pengalaman baru berbelanja bagi konsumen, Handaka juga tidak menutup kemungkinan menerapkan digitalisasi pada toko-toko ritel naungannya.

Hal itu dilakukan menyikapi perubahan yang begitu cepat terhadap dunia usaha, terutama karena perkembangan teknologi dan hadirnya cara belanja secara online.

“Kami dulu enggak mengantisipasi online, perubahan cepat sekali. Tentunya dengan meningkatkan digitalisasi di toko kami, itu sebuah nilai tambah,” tutur Handaka.

Atas dasar hal itu, Handaka percaya industri ritel akan tetap hidup di Indonesia. Untuk lebih meyakinkan pendapatnya, dia menceritakan rencana pembukaan Sogo Department Store yang baru 5 November 2017 mendatang di Supermall Karawaci, Tangerang.

“Jadi, sebenarnya bisnis ritel itu enggak ada matinya. Tinggal bagaimana pemerintah memberikan keadilan antara kami pengusaha ritel dengan mereka yang menggunakan platform online agar persaingannya sama,” ujar dia.

https://www.bukalapak.com/u/kembarmandiri

https://playv.kompas.com/9fce14858443147921c620/085c14943041642afea855_default/index?vid=9eab1505792782adc7b995_cmsv

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita justru mengatakan, kondisi bisnis ritel saat ini dalam kondisi sangat baik.(Kompas TV)

Buat sebagian dari mereka, peristiwa tersebut harus disikapi dengan baik dan dijadikan kesempatan untuk berinovasi, memperbaiki layanan, dan mengetahui minat konsumen masa kini.

CEO Sogo Department Store Handaka Santosa dalam sebuah diskusi di Hotel Ibis, Jakarta Barat pada Rabu (1/11/2017) mengungkapkan pihaknya masih optimistis dengan kondisi saat ini ketika ritel seperti Lotus yang sudah berdiri lama akhirnya tutup.

Dia bahkan melihat ada perubahan minat konsumen yang harus dipelajari lebih lanjut oleh para pengusaha.

(Baca: Ritel Modern Berguguran, Asosiasi Minta Pengusaha Pemasok Tidak Panik)

“Sekarang minat konsumen lebih ke leisure. Banyak orang ke mal atau pusat perbelanjaan lebih suka untuk makan dan minum, jadi kami berpikir apa yang harus dilakukan supaya tetap bisa menarik minat belanja, salah satunya dengan memberikan pengalaman dalam menyajikan barang di toko,” kata Handaka.

Logika yang dipakai Handaka adalah, pembeli akan datang jika dagangan yang dijajakan menarik.

Hal itu memperlihatkan bahwa masih ada kesempatan untuk pengusaha ritel mempertahankan eksistensinya, terlebih daya beli masyarakat dianggap masih bisa meningkat karena setiap tahun pendapatan melalui upah minimum provinsi (UMP) terus naik.

Selain menyajikan pengalaman baru berbelanja bagi konsumen, Handaka juga tidak menutup kemungkinan menerapkan digitalisasi pada toko-toko ritel naungannya.

Hal itu dilakukan menyikapi perubahan yang begitu cepat terhadap dunia usaha, terutama karena perkembangan teknologi dan hadirnya cara belanja secara online.

“Kami dulu enggak mengantisipasi online, perubahan cepat sekali. Tentunya dengan meningkatkan digitalisasi di toko kami, itu sebuah nilai tambah,” tutur Handaka.

Atas dasar hal itu, Handaka percaya industri ritel akan tetap hidup di Indonesia. Untuk lebih meyakinkan pendapatnya, dia menceritakan rencana pembukaan Sogo Department Store yang baru 5 November 2017 mendatang di Supermall Karawaci, Tangerang.

“Jadi, sebenarnya bisnis ritel itu enggak ada matinya. Tinggal bagaimana pemerintah memberikan keadilan antara kami pengusaha ritel dengan mereka yang menggunakan platform online agar persaingannya sama,” ujar dia.

https://playv.kompas.com/9fce14858443147921c620/085c14943041642afea855_default/index?vid=9eab1505792782adc7b995_cmsv

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita justru mengatakan, kondisi bisnis ritel saat ini dalam kondisi sangat baik.(Kompas TV)
Iklan

TOP Gainer 3 Maret, Saham Indofarma Meroket 24,8%

JAKARTA. Harga saham PT Indofarma Tbk mencatatkan penguatan paling signifikan pada perdagangan hari ini, Jumat (3/3/2017).

Saham emiten berkode INAF [2,970 590 (+24,8%)] ini ditutup melonjak 24,79% atau 590 poin ke level Rp2.970 per lembar saham.

Penguatan ini terjadi saat IHSG ditutup melemah 0,35% atau 18,79 poin ke level 5.389,47 setelah pagi tadi juga dibuka melemah 0,10% atau 5,67 poin di posisi 5.402,58.

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada kisaran 5.384,79 – 5.410,90.

Dari 539 saham yang diperdagangkan, sebanyak 115 saham menguat, 188 saham melemah, dan 236 saham lainnya stagnan.

Saham apa saja yang menjadi top gainers dalam perdagangan Bursa Efek Indonesia hari ini? Berikut rinciannya:

Kode Harga (Rp) (%)
INAF 2.970 24,79
BRMS 104 18,18
DEWA 76 16,92
MICE 500 11,61
BIPI 119 10,19

Sumber: Bursa Efek Indonesia, 2017

http://market.bisnis.com/read/20170303/7/633819/top-gainers-3-maret-saham-indofarma-meroket-2479

Habis Nyungsep, Saham BUMI dan Anak Usaha Terbang

Perusahaan pertambangan batubara PT Bumi Resources Tbk (BUMI) milik grup Bakrie. Foto: Dok BUMI (dari Annual Report)

Perusahaan pertambangan batubara PT Bumi Resources Tbk (BUMI) milik grup Bakrie.

Foto: Dok BUMI (dari Annual Report)

JAKARTA. Bukan saham Grup Bakrie jika tak membikin investor deg-degan. Setelah ambrol pada perdagangan kemarin, harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan anak usahanya berbalik meroket tajam.

Pada penutupan perdagangan hari ini, Rabu (22/2), harga saham BUMI melonjak 25,17% menjadi Rp 368 per saham. Dibuka di harga Rp 300 per saham, harga saham BUMI sempat turun mencapai Rp 262 per saham. Namun, satu jam sebelum penutupan perdagangan, saham BUMI kembali berbalik ke zona hijau. Malah, saham BUMI sempat menyentuh posisi Rp 372 per saham.

Hingga perdagangan usai, transaksi saham BUMI mencapai Rp 849,2 miliar. Investor asing membukukan beli bersih alias net buy senilai Rp 672,87 miliar. Dihitung selama sepekan terakhir, investor asing masih mencetak net buysebesar Rp 20,6 miliar.

Pergerakan harga saham anak usaha BUMI, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), seakan mengikuti induknya. Dibuka di harga Rp 69 per saham, saham BRMS sempat bergerak turun ke posisi Rp 63 per saham. Namun, hingga perdagangan usah, saham BRMS terus bertahan di zona hijau.

Dua jam sebelum perdagangan usai, saham BRMS mencoba berlari kencang. Hingga akhirnya, saham BRMS menyentuh batas harga penolakan otomatis alias auto rejection di harga Rp 89 per saham.

Pada perdagangan hari ini, saham BRMS mencetak kenaikan sebear 34,85%. Nilai transaksi saham BRMS sebesar Rp 145 miliar. Meski harga saham meroket, investor asing justru membukukan jual bersih alias net sell saham BRMS senilai Rp 456,22 miliar. Toh, jika dihitung selama sepekan terakhir, investor asing masih membukukan net buy saham BRMS sebesar Rp 6,22 miliar.

Peruntungan anak usaha BUMI lainnya, PT Darma Henwa Tbk (DEWA, tak kurang menarik. Sepanjang perdagangan, saham DEWA terus bertahan di zona hijau hingga akhirnya mencapai harga Rp 70 per saham. Hari ini, harga saham DEWA tercatat melonjak 34,62%.

Nilai transaksi saham DEWA hari ini mencapai Rp 158,4 miliar. Lagi-lagi, investor asing justru membukukan net sell senilai Rp 456,69 miliar. Dihitung selama sepekan, investor asing masih membukukan net buy senilai Rp 2,09 miliar.

freeport

 

Inilah Penyebab Saham Grup Bakrie Berguguran

bumi

bumi

JAKARTA. Sejumlah saham emiten Grup Bakrie berguguran pada perdagangan Selasa (21/2). Lima saham Grup Bakrie, yakni Bumi Resources Minerals (BRMS), Bakrieland Development (ELTY), Darma Henwa (DEWA), Graha Andrasentra Propertindo (JGLE) dan Bumi Resources (BUMI) menjadi top losers terbesar pada perdagangan kemarin.

Saham BRMS yang sempat melambung kini turun hingga 34,65% ke level Rp 66 per saham. Hal serupa dialami ELTY yang kembali ke level gocap alias turun 31,51% dari perdagangan sehari sebelumnya. Sementara saham BUMI kembali ke Rp 380 atau turun 22,63%, menjadi penurunan terdalamnya sepanjang tahun ini.

Saham Grup Bakrie ini ditransaksikan dengan volume dan nilai cukup besar. BUMI bahkan menjadi penggerus Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin yang turun 0,34% ke 5.340,99. Dengan kapitalisasi pasar Rp 11 triliun, BUMI berkontribusi 2,9 poin terhadap penurunan IHSG.

Setelah anak usaha Grup Bakrie lainnya, Bakrie Sumatera Plantation (UNSP) mendapat restu untuk menggabung nilai nominal saham alias reverse stcok, saham UNSP direspons negatif. Apalagi, rencana ini juga diikuti Energi Mega Persada (ENRG) yang akan reverse stock dengan rasio 8:1. Saham ENRG dan UNSP lebih dulu kembali ke level terendahnya, Rp 50 per saham.

Analis Binaartha Parama Sekuritas Reza Priyambada menilai, pasar memang menunggu langkah selanjutnya dari Grup Bakrie, terutama BUMI dengan rencana rights issue di harga tinggi.

“Di sisi lain, rights issue ini berdekatan dengan rencana reverse stock UNSP. Jadi pasar belum melihat hasil dari BUMI, tetapi sudah ada aksi korporasi lainnya. Sehingga pasar khawatir grup ini kembali melakukan akrobat yang membuat saham kembali turun,” ujar Reza.

Analis NH Korindo Securities Bima Setiaji berpendapat, rencana reverse stock UNSP dan ENRG membuat pasar mengira aksi ini juga akan dilakukan emiten Bakrie lainnya. Aksi reverse stock memang membuat jumlah saham beredar menjadi lebih sedikit, sehingga mempengaruhi likuiditas saham. Belum lagi, jika fundamental saham kurang baik, maka saham yang nilainya sudah digabung itu berpotensi turun lebih dalam.

arb

arb

 

Khwatir Pasokan CPO, Saham Agrikultur Anjlok Pekan Lalu

saham-cpo

Jakarta, CNN Indonesia — Kekhawatiran kenaikan stok minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di Malaysia dinilai menjadi penyebab utama anjloknya indeks saham sektor agrikultur sepanjang pekan lalu.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andi Wibowo Gunawan menjelaskan, pelaku pasar khawatir potensi kelebihan pasokan (over supply) terhadap CPO karena naiknya imbal hasil CPO di Malaysia.

Jika terjadi kelebihan pasokan, maka harga komoditas CPO yang tengah membaik akan kembali menurun.

“Memang, kontennya itu jika imbal hasil membaik maka ada potensi over supply. Ini yang krusial banget kemarin bahwa imbal hasil membaik di Malaysia,” ungkap Andi kepada CNNIndonesia.com, Minggu (19/2).

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) memperlihatkan, agrikultur menjadi sektor terlemah jika dibandingkan dengan tujuh sektor lainnya yang juga terkoreksi pada pekan lalu.

Indeks sektor agrikultur turun hingga 2,55 persen menjadi 1.865,265 dari pekan sebelumnya 1.914,068 atau naik tipis 0,09 persen.

Dengan demikian, beberapa emiten yang bergerak dalam bisnis perkebunan bergerak melemah sepanjang pekan lalu. Sentimen negatif ini terutama menyerang PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI).

Jika dilihat pada penutupan akhir pekan lalu, saham Perusahaan Perkebunan London Sumatra turun hingga 2,81 persen ke level Rp1.555 per saham, sedangkan Astra Agro terkoreksi 2,4 persen ke level Rp15.225 per saham.

Namun jika diakumulusai sepanjang pekan, maka penurunan harga saham Perusahaan Perkebunan London Sumatra terbilang tipis yakni, 0,95 persen. Berbeda dengan Astra Agro yang cukup besar hingga 2,56 persen.

Meski begitu, kekhawatiran pelaku pasar ini terbilang berlebihan dan terlalu dini. Hal ini disebabkan, manajemen perusahaan perkebunan masih melakukan penghitungan estimasi banyaknya CPO yang dapat diproduksi pada tahun ini dengan kondisi cuaca yang ada.

“Kan pada akhir tahun 2015 lalu masih terkena el nino, kemarau. Lalu kan biasanya abis el nino itu la nina, jadi curah hujannya tinggi makanya emiten masih itung dulu berapa produksinya tahun ini,” papar Andi.

Andi sendiri mengaku optimis jika pasokan CPO terbilang aman pada tahun ini. Bahkan, ia menaikan prediksi harga CPO tahun ini yang semula 2.750 ringgit per ton menjadi 2.950 ringgit per ton.

Menurutnya, produksi CPO pada semester I 2017 ini masih akan terganggu oleh curah hujan yang tinggi. Bila curah hujan tinggi, maka akan mengganggu logistik saat panen CPO.

Artinya, produksi CPO tidak akan maksimal dan jumlah pasokan CPO tidak akan berlebihan. Selain itu, Andi juga memprediksi mata uang dolar Amerika Serikat (AS) menguat sepanjang tahun ini.

“Kalau la nina, produksi juga enggak bisa improve. Terus kalau mata uang dolar AS naik, maka harga naik karena 80 persen-90 persen hasil CPO dieskpor. Jadi ada untungnya jika dolar AS menguat,” pungkas Andi.

Potensi Rebound

Untuk pekan ini, Andi melihat adanya potensi bagi harga saham Perusahaan Perkebunan London Sumatra dan Astra Agro akan bangkit (rebound) karena penurunan yang terjadi pekan lalu sudah dinilai cukup dalam.

Selain itu, kedua emiten tersebut masih dinilai baik secara fundamental dan valuasi saham masih terbilang atraktif.

Untuk diketahui, harga saham Astra Agro pada penutupan akhir pekan lalu merupakan harga terendah Astra Agro sepanjang satu bulan terakhir. Sementara, harga saham terendah satu bulan terakhir Perusahaan Perkebunan London Sumatra terjadi pada 9 Februari lalu di level Rp1.545 per saham.

Adapun, jika dilihat sejak awal tahun, harga saham kedua emiten ini masih terbilang negatif. Otomatis, imbal hasil yang diterima pelaku pasar yang menempatkan dananya di kedua emiten juga negatif.

Untuk imbal hasil Perusahaan Perkebunan London Sumatra secara year to date (ytd) tercatat minus 10,88 persen, sedangkan imbal hasil Astra Agro minus 8,28 persen. (gir)

Arsip

Blog Stats

  • 399,269 hits

Map MyVisitor

Flags MyVisitors

free counters

%d blogger menyukai ini: