//5T4T3
you're reading...
PATRIOTISME SAYA

Senjakala Kerajaan Bisnis Bakrie

senjakala-runtuhnya-kerajaan-bisnis-bakrie
Dalam beberapa tahun terakhir, keberuntungan tidak berpihak pada kerajaan bisnis milik Aburizal Bakrie. Anjloknya harga komoditas pertambangan dan perkebunan menjadi salah satu masalah besar yang dihadapi grup Bakrie.

Selama ini, grup Bakrie mengandalkan komoditas batu bara, dan minyak sawit mentah sebagai pundi-pundi uang. Tapi kenyataannya, sejak tahun lalu harga komoditas yang selama ini menjadi mesin uang bagi Bakrie, tak berdaya di pasar internasional.

Sejak tahun lalu Bakrie menghadapi tantangan berat. Bisnis kerajaan Bakrie rata-rata terbelit masalah. Bahkan, dari sembilan anak usaha yang berada di bawah bendera PT Bakrie&Brothers Tbk, hanya dua yang tahun ini diprediksi berkinerja cukup cerah. Sisanya, masih dibayangi awan gelap.

Bakrie&Brothers sebagai induk usaha, nasibnya tak kalah buruk dari anak usahanya. Bakrie&Brothers menaungi beberapa anak usaha mulai dari Bumi Resources (35 persen), Bakrie Sumatera Plantations (54,59 persen), Bakrie Telecom (52,6 persen), Energi Mega Persada (40 persen). Ada pula Bakrieland Development (40 persen), Bakrie Metal Industries (99,9 persen), Bakrie Indo Infrastructure (99,9 persen), Berau Coal Energy hingga Viva Media Asia.

Beberapa indikator menunjukkan kinerja kerajaan bisnis Bakrie mulai memasuki masa senja. Sejumlah lini bisnis Bakrie yang mengandalkan sumber daya alam tak lagi cerah, bahkan cenderung terus merugi. Pun demikian pada lini bisnis properti yang nasibnya tidak lebih baik. Merdeka.com mencoba merangkum beberapa indikator yang menunjukkan tanda-tanda bisnis Bakrie yang mulai memasuki masa senja.

1. Laba melorot tajam
Induk kerajaan bisnis Bakrie yakni PT Bakrie & Brother Tbk (BNBR) mencatat perolehan laba bersih semester I hanya Rp 8,36 miliar. Laba perseroan anjlok 96,09 persen dari perolehan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mampu mencapai Rp 214,35 miliar.

Ini menyebabkan penurunan pendapatan sekitar 82,87 persen sebesar Rp 1,95 triliun atau turun dari perolehan semester pertama 2012 yang mencapai Rp 11,39 triliun.

“Memang turun jika dibandingkan dengan perolehan revenue semester pertama 2012. Ini disebabkan dekonsolidasi atas anak usaha kami, yakni Bakrie Petroleum International Pte. Ltd. dan entitas anak sehingga ini juga membawa dampak terhadap perolehan laba bersih perseroan,” ujar Direktur Utama & CEO BNBR, Bobby Gafur Umar, dalam siaran pers yang diterima merdeka.com, Jakarta, Rabu (31/7).

2. Tak lepas dari lilitan utang
Kerajaan bisnis Bakrie tidak lepas dari persoalan lilitan utang. Sejak berhasil mengembangkan Bumi menjadi perusahaan tambang terbesar di Indonesia pada 1997, Bakrie kembali berutang ke mana-mana. Ekspansi bisnis dilakukan, anak dan cucu perusahaan didirikan. Dari utang, Bakrie bisa mendapat lebih banyak lagi utang sekaligus menumpuk pundi-pundi uangnya.

Aburizal Bakrie sendiri pernah mengakui bahwa jalan berutang untuk membeli Kaltim Coal adalah salah satu keputusan terpenting dalam hidupnya. Sebab, dari seorang calon pengusaha bangkrut, dia berhasil menjadi orang terkaya di Tanah Air versi Majalah Forbes 2007.

bakrie selalu berhasil berkelit dari masalah utang. Tahun lalu, Bakrie&Brothers mengklaim, berhasil menekan beban utang sebesar 40 persen. Pada 2011, BNBR mencatat utang sebesar Rp 10,71 triliun. Tahun lalu, utang Perseroan berkurang Rp 4,27 triliun, menjadi hanya Rp 6,44 triliun.

Yang terbaru, pada semester I 2013, manajemen BNBR

kembali mengklaim berhasil menekan beban perseroan, khususnya beban bunga dan keuangan melalui penurunan porsi utang.

Beban bunga dan keuangan perseroan turun hingga 78 persen atau Rp 603 miliar, dari Rp 775,79 miliar pada semester pertama 2012 menjadi hanya tinggal Rp.172,78 miliar di akhir semester pertama 2013 ini. Namun bukan berarti Bakrie tidak mencari celah untuk mendapat utang. Baru-baru ini sumber merdeka.com menyebutkan bahwa Bakrie mendapat pinjaman utang Rp 2 triliun dari bos MNC Hary Tanoesodibjo dengan persyaratan.

Induk usaha Bakrie ini menargetkan minimal 15-20 persen. Pihaknya mengaku tidak ingin terlalu agresif mengurangi utang perseroan. “Kami lakukan itu agar strategi perusahaan kami baik ke depannya,” jelas dia.

3. Jor-joran jual aset
Di balik upaya menekan beban utang, strategi yang diambil Bakrie adalah menjual aset-aset besar dari pelbagai lini bisnisnya mulai dari sektor migas, perkebunan, properti, jalan tol hingga perusahaan pipa.

Unit usaha perkebunan Bakrie, yakni PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk (UNSP) akan menjual enam perkebunan kelapa sawit seluas 30.000 hektar di Sumatra. Dana hasil penjualan akan digunakan untuk melunasi utang jangka pendek yang mencapai Rp 3 triliun.

Dari bisnis properti, PT Bakrieland Development Tbk telah melepas 3 hektare lahan di kawasan Kuningan, Jakarta senilai Rp 868,9 miliar kepada Grup Sinar Mas. Kepemilikan saham sebanyak 15 persen di proyek Bukit Jonggol Asri juga dijual kepada Sentul City. Bakrieland juga menjual lima ruas jalan tol yang dikelola oleh PT Bakrie Toll Road senilai Rp 2 triliun dan proyek properti Lido Lake Resort sekitar Rp 1 triliun kepada Grup MNC. Yang masih hangat, Hary Tanoe juga membeli 19,90 persen saham PT Bali Nirwana Resort dari Sugilite Company Tbk dan PT Bakrie Nirwana Semesta.

Dari sektor migas, PT Energi Mega Persada Tbk melepas 10 persen penyertaan di Blok Masela kepada Inpex Masela Ltd dan Shell Upstream Overseas Service Ltd sebesar USD 313 juta. Blok Masela tercatat sebagai salah satu lapangan yang memiliki cadangan gas terbesar di Indonesia.

PT Bakrie & Brothers Tbk, perusahaan investasi Grup Bakrie juga tengah dalam proses negosiasi untuk mendivestasi anak perusahaan, PT Bakrie Pipe Industries yang diperkirakan senilai Rp 2 triliun. Stasiun televisi antv juga dikabarkan telah digadaikan ke bos MNC Hary Tanoe demi mendapat utang sebesar Rp 2 triliun.

4. Tak masuk daftar perusahaan terbesar dunia
Tahun ini Majalah Forbes telah merilis daftar 2.000 perusahaan paling besar sejagat. Hanya terdapat sembilan perusahaan asal Indonesia yang masuk dalam daftar ini.

Yang menarik, ada satu perusahaan yang harus tersingkir dari daftar perusahaan terbesar sejagat. Yaitu perusahaan tambang milik keluarga Bakrie, Bumi Resources. Tahun lalu, perusahaan tambang tersebut masuk dalam peringkat ke-1898 atau paling bontot untuk perusahaan dari Indonesia.

Seperti yang telah diketahui, perusahaan batu bara itu telah mengalami masalah sejak akhir tahun lalu. Konflik dengan konglomerat Inggris, Nathaniel Philip Rothschild telah membuat Bakrie kelimpungan. Perusahaan tersebut harus membeli kembali saham yang telah dijual kepada Bumi Plc dan sebaliknya.

Buruknya kinerja Bumi juga sudah terlihat sejak tahun lalu. Analis Panin Sekuritas sudah melihat kejatuhan Bumi Resources. Salah satu faktornya, kinerja perusahaan yang kian tergerus tingginya beban utang yang harus dibayar serta kerugian atas transaksi derivatif. Laporan keuangan Bumi Resources mencatat bahkan jumlah beban keuangan yang harus dibayar lebih tinggi dari laba usahanya sendiri.

5. Harga saham anjlok
Sebuiah lembaga penelitian melansir analisa kinerja saham perusahaan grup Bakrie sejak 20 Mei hingga 10 Juli. Hasilnya, saham-saham grup Bakrie merosot jauh melebihi kinerja IHSG. Dari 20 Mei 2013 hingga 10 Juli, saham Bakrie Sumatra anjlok 41 persen. Saham Energi Mega Persada melorot hingga 23 persen. Saham Bumi Resources anjlok 32 persen dan Bumi Resources Minerals terpangkas 30 persen.

Harga saham Berau Coal Energy (BRAU) melorot 26 persen. Sementara untuk saham non komoditas, saham Bakrieland Development (ELTY) jatuh 2 persen. Saham Bakrie Telecom (BTEL) turun 4 persen. Saham Visi Media Asia (VIVA) turun 39,62 persen sepanjang tahun ini.

6. Bakrie tak masuk daftar orang kaya
Sejak tiga tahun terakhir, Aburizal Bakrie tak lagi masuk jajaran orang terkaya Indonesia versi Majalah Forbes. Masuk deretan 40 besar pun tidak.

Tahun lalu, dari sederetan nama pengusaha-pengusaha dari berbagai bisnis, lagi-lagi tidak ada nama bos Bakrie and Brothers yakni Aburizal Bakrie. Pada 2011, Ical, sapaan akrab Aburizal Bakrie, terlempar ke peringkat 30 di daftar orang terkaya di Indonesia.

Forbes mengungkapkan, melorotnya harta kekayaan Ical karena hasil penjualan setengah sahamnya pada perusahaan tambang batubara Bumi Resources digunakan untuk membayar utang.

Pada 2011 harta kekayaan kandidat calon presiden 2014 ini sudah turun hingga USD 1,2 miliar atau 57 persen. Padahal, tahun sebelumnya, Ical bertengger di posisi orang terkaya nomor 10 di Indonesia dengan total harta USD 2,1 miliar.

Ical menanggapi santai terdepaknya dia dari peringkat 40 orang terkaya di Indonesia versi Majalah Forbes. Bahkan, dia bersyukur karena dengan adanya survei tersebut, membuat dia lebih dekat dengan rakyat dibanding kalangan orang kaya.

“Mungkin harus kita mendekati elit tapi elitnya kan cuma 223 orang, tetapi rakyatnya puluhan juta, yang memilih kan rakyat, karena itu yang harus saya dekati rakyat bukan elit,” ujar Ical usai menghadiri diskusi publik masa depan pengelolaan migas nasional di Kantor DPP Golkar, Jakarta, Selasa (4/12).

About syafyess

Saya dilahirkan di kota Pekanbaru yang terkenal dengan cuaca panasnya dan daerah paling kaya di Indonesia karena diatas dan dibawah buminya menghasilkan minyak.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Blog Stats

  • 362,620 hits

Map MyVisitor

Flags MyVisitors

free counters

%d blogger menyukai ini: