//5T4T3
you're reading...
PATRIOTISME SAYA

PEMILUKADA, NARSIS HABIS DI JALANAN

Semakin dekat jadwal Pemilukada di setiap daerah maka semakin bertebaranlah iklan atau reklame para kandidat di jalanan raya. Sepanjang jalan disetiap daerah yang di landa Pemilukada (Pemilihan Umum Kepala Daerah) maka semakin banyak pula photo-photo kandidat beserta jargon-jargon politiknya. Para kandidat tidak saja memajang photo di jalan raya utama tapi sudah sampai kepelosok desa bahkan di dalam gang sempit. Photo-photo para kandidat bisa berupa papan reklame, brosur, kalender, bahkan surat yasin. Entah berapa duit yang dihambur-hamburkan oleh para kandidat tersebut. Beredar khabar angin untuk menjadi calon gubernur dan wakil gubernur minimal dana yang diperlukan mencapai puluhan hingga ratusan milyar, alamak.

Pernah terlintas dibenak saya yang awam ini betapa royalnya para kandidat tersebut beriklan diri. Kita bisa lihat di Televisi dan koran berapa kali sehari mereka tampil menjajakan diri. Padahal kita tahu iklan di koran dan televisi bukanlah harga yang murah. Untuk sekali tampil dibutuhkan duit puluhan juta rupiah. Yang jadi pertanyaan saya: “darimana duit untuk beriklan diri tersebut?” Alangkah kaya sekali mereka bahkan jika dibandingkan para pengusaha yang memang sudah masuk 100 orang kaya di dunia sekalipun. Pertanyaan lainnya; “Berapa gaji PNS sebagai gubernur, bupati, walikota di Indonesia?” Ini mungkin pertanyaan tolol dari banyak orang dan saya yakin tidak ada yang bisa menjawabnya secara sempurna.

Selain itu yang bikin geli kita di jalanan jika membaca istilah-istilah atau singkatan dari para kandidat, seperti DUA RUDY, Dua Pemimpin Sukses Bersatu, Lanjutkan. ROSSA, Rosehan Nor Bahri dan Saefullah Rasyid. ZA, Zairullah Azhar dan Abu Bakar Al Habsy. AYUHA, Ahmad Yudhi Wahyuni dan Haryanto, Teruskan. Serta banyak lagi yang lainnya. Saya ogah menghafalnya.

Begitu juga di Kalteng, AYUDIK, Ahmad Yuliansyah dan Didik Salmiarji, PAHALA, Pahrurazi dan pasangannya. Sebenarnya Pemilukada ini baru ada sejak zaman reformasi dan otonomi daerah pasca runtuhnya rezim Soeharto. Zaman Soeharto, kepala daerah ditunjuk langsung oleh Presiden. Jadi jangan heran jika Kepala Daerah sangat takut dan loyal kepada Presiden atau atasannya langsung. Jika sekarang banyak Kepala Daerah yang “mbandel” terhadap atasannya langsung karena merasa dirinya di pilih oleh rakyat melalui Pemilukada.

Iklan

About syafyess

Saya dilahirkan di kota Pekanbaru yang terkenal dengan cuaca panasnya dan daerah paling kaya di Indonesia karena diatas dan dibawah buminya menghasilkan minyak.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Blog Stats

  • 399,315 hits

Map MyVisitor

Flags MyVisitors

free counters

%d blogger menyukai ini: