//5T4T3
you're reading...
PATRIOTISME SAYA

LIHAN LAGI ACTING DIBURU KULI TINTA

MARTAPURA, SENIN – Kendati aset berupa rumah megah di Jalan Ciragil I No 29 Blok Q/I RT 005 RW 007 Kelurahan Rawa Barat Jakarta Selatan diklaim dikuasai oleh investor kelompok 12 akan tetapi tidak membuat investor lainnya mundur untuk mendapatkan rumah senila Rp4 miliar lebih tersebut.

Melalui kuasa hukumnya Fathurahman SH, investor Lihan tetap mendaftarkan rumah serta aset dua mobil mewah milik Lihan ke Pengadilan Negeri (PN) Martapura. Mereka menganggap, tanpa melalui proses hukum di pengadilan atau penyerahan langsung oleh Lihan serta pengacarannya pihaknya belum memandang aset tersebut sah milik kelompok 12.

Dihubungi terkait perkembangan kasus Lihan, kuasa hukum sejumlah investor yang menggugat ke PN Martapura, Fathurahman SH mengatakan, boleh saja sekarang ini kelompok 12 menguasai aset tersebut.

“Mereka boleh menguasai sertifikatnya. Tetapi, kami akan menguasai fisiknya,”cetus Faturahman SH, Jumat (15/1/2010).

Faturahman berpendapat, aset berupa rumah mewah di Ciragil yang sekarang diklaim telah disita oleh kelompok 12 tidak dilakukan melalui proses peradilan hukum perdata sehingga pihaknya tidak melihat penyitaan tersebut sah diberikan oleh hukum.

Penyitaan oleh pengadilan, dilakukan setelah ada permohonan gugatan. Seperti kasus Lihan ini, keputusan untuk penyitaan dilakukan PN Martapura dan untuk pelaksanaannya PN Martapura bisa meminta bantuan PN Jakarta Selatan.

LIHAN DIBURU WARTAWAN

Iklan

About syafyess

Saya dilahirkan di kota Pekanbaru yang terkenal dengan cuaca panasnya dan daerah paling kaya di Indonesia karena diatas dan dibawah buminya menghasilkan minyak.

Diskusi

One thought on “LIHAN LAGI ACTING DIBURU KULI TINTA

  1. COPAS dari RADAR BANJARMASIN

    Rabu, 6 Oktober 2010
    Lihan Dituntut 13 Tahun

    Nasabah: Lihan Bukan Koruptor
    Tim JPU Dinilai Salah Baca Tuntutan
    MARTAPURA – Tuntutan Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) atas kasus dugaan penggelapan uang milik masyarakat dengan terdakwa Lihan membuat nasabahnya meradang.
    Mereka langsung berteriak “Lihan bukan koruptor” sesaat usai sidang dengan agenda pembacaan tuntutan JPU di Pengadilan Negeri (PN) Martapura ditutup Ketua Majelis Hakim, Edy Suwanto SH MH, Selasa (5/10).
    Puluhan nasabah mengaku kecewa, dan menilai Tim JPU salah membacakan tuntutan. Sebab menurut mereka, tuntutan yang dialamatkan pada Lihan terlalu besar, bahkan lebih berat dibanding tuntutan atas kasus korupsi selama ini.
    “Jaksanya mungkin salah baca tuntutan, tulisannya 1,3 tahun dibaca 13 tahun. Tuntutan ini terlalu besar. Koruptor saja hanya dua tahun, ini benar-benar keterlaluan,” ujar Uca salah seorang nasabah paruh baya asal Banjarbaru yang tak bisa menerima tuntutan jaksa.
    Kepada wartawan, sejumlah nasabah Lihan mengaku kecewa, sebab selain tuntutan yang dinilai terlalu berat, aset usaha Lihan yang notabene berasal dari para nasabah ini bakal disita oleh Negara.
    “Itu uang kami, bukan uang hasil kejahatan. Pak Lihan sendiri yang bilang, kalau uang itu dijadikan modal bisnis jual beli intan,” timpal Ustaz Hasyim Asyari, nasabah lainnya.
    Lagi pula kata mereka, nasabah tidak merasa dirugikan dari perjanjian bisnis selama ini dengan Lihan. Menurut Hasyim, andai saja Lihan tidak keburu ditangkap, usaha yang dijalankan Lihan tidak akan terjadi seperti sekarang ini.
    “Kami tidak merasa dirugikan ‘kok, ini karena usahanya belum selesai, Lihan malah ditangkap duluan. Ini uang masyarakat, kalau begini keadilan ada dimana,” cetusnya.
    Meradangnya para nasabah ini, buntut dari kekecewaan sidang tuntutan yang berlangsung selama lebih kurang dua jam dari pukul 15.30 Wita. Tim JPU menuntut Lihan dengan tuntutan 13 tahun penjara, denda Rp 10 miliar dan subsider 6 bulan.
    Dalam bacaan tuntutannya, Ketua Tim JPU, Fadlan SH menjerat terdakwa Lihan dengan pasal berlapis, yakni tentang penggelapan uang, perbankan syariah dan aktivitas pencucian uang. Sedangkan dakwaan tentang perbankan umum dan penipuan tidak terbukti di persidangan. Akibat perbuatannya tersebut menurut Fadlan, selain membuat resah masyarakat, stabilitas ekonomi di Kalsel juga menjadi terganggu.
    Dalam persidangan sore kemarin, Fadlan juga mengungkap bahwa uang yang dihimpun dari masyarakat oleh Lihan selama ini ternyata hanya sebagian kecil saja yang digunakan untuk usaha jual beli intan. Selebihnya menurut dia, digunakan untuk keperluan pribadi seperti membeli rumah, tanah, ruko dan sejumlah kendaraan mewah diantaranya seperti Grand Livina, Fortuner dan CRV.
    “Uang yang ditampung dalam 27 rekening atas nama istri dan dirinya, ternyata hanya sebagian kecil saja untuk usaha jual beli intan, seperti membeli Putri Malu seharga Rp 3 miliar lebih,” ungkapnya.
    Masih dalam tuntutan JPU, Fadlan mengatakan, untuk menutupi bahwa perbuatan terdakwa tersebut melawan hukum, terdakwa mendirikan banyak perusahaan, sedikitnya 11 perusahaan dengan beragam bidang yang diusahakan.
    “Dengan mendirikan banyak perusahaan itu, untuk mengesankan bahwa seolah-olah dana dari masyarakat itu syah atau legal,” katanya. (bem)

    Posted by Rianz | 9 Oktober 2010, 8:33 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Blog Stats

  • 389,936 hits

Map MyVisitor

Flags MyVisitors

free counters

%d blogger menyukai ini: