//5T4T3
you're reading...
PATRIOTISME SAYA

AKU (MALU) JADI ORANG INDONESIA

Menjelang 2 hari Pemilu  Pilpres masalah DPT belum lagi tuntas.  Banyak masalah yang muncul seperti adanya pemilih ganda mencapai  20 jutaan orang diseluruh Indonesia (wawancara TVOne dengan cawapres Prabowo Subianto).   Belum lagi masalah pemilih  yang tidak tercantum di DPT yang juga mencapai jutaan orang.  Hal ini menjadi perhatian Mahkamah Konstitusi yang akhirnya mengeluarkan fatwa pemilih yang tidak terdaftar boleh mengunakan KTP dalam Pilpres 2009 ini.  Persyaratan lain selain KTP adalah Kartu Keluarga (KK) dan hanya boleh mencontreng di TPS sesuai alamat di KTP saja.  Pemilih yang mengunakan KTP harus hadir 1 jam sebelum waktu penutupan di TPS.  Untuk pemilih yang berada diluar negeri yang tidak tercantum di DPT bisa mengunakan passport.  Fatwa MK ini merupakan jalan terbaik yang harus ditempuh untuk menyelamatkan pesta demokrasi rakyat sekali lima tahun yang biayanya mencapai Rp. 24 Triliun.

Jika kita tarik benang merah siapa yang harus bertanggungjawab atas kisruh DPT Pemilu Pilpres dan Legislatif 2009 ini???  Pertanyaan ini bagaikan “lingkaran setan” yang susah dicari awalnya.  Mengapa??  Karena masing-masing pihak yang terkait saling lempar bola  satu dengan yang lainnya.   KPU sebagai penyelenggara Pemilu mengunakan data kependudukan dari Departemen Dalam Negeri.  Departemen yang secara resmi  mengelola kependudukan.  Jadi sudah “pasti” data tersebut legal dan benar.  Padahal bukan rahasia umum lagi bahwa KTP di Indonesia dapat diperjualbelikan dengan harga yang relative murah.  Orang gampang buat KTP asal ada “duit” dan “kenalan” orang dalam yang mengeluarkan KTP.  Jadi sangat gampang sekali membuat KTP bahkan 1 orang bisa memiliki lebih dari 1 KTP bisa 2 bahkan 3 KTP dengan alamat yang berbeda.  Inilah Indonesia, Negara yang sangat kita cintai ini.

Namun yang menjadi pikiran saya kok masalah DPT baru muncul dalam Pemilu 2009 ini??  Kenapa dalam Pemilu 2004 lalu tidak ada??  Aneh tapi nyata, harusnya kita semakin  lama semakin baik karena sudah punya pengalaman.   Knowledge is the best teacher, itulah pepatah bijak yang sering diucapkan orang.  Dalam Pemilu 2004 saya dapat kartu pemilih tapi hanya saya gunakan sampai putaran pertama.   Karena jago saya  kalah maka pada putaran kedua saya ngak nyoblos.   Sekarang di Pemilu 2009 ini saya ngak kebagian kartu pemilih sama sekali.  Jadi saya golput dikarenakan keterpaksaan.  Apa saya bisa pakai kartu pemilih Pemilu 2004 yang masih saya simpan ya???

Menurut saya yang paling bertanggungjawab atas kisruhnya DPT kali ini adalah Depdagri sebagai pemilik dan pengelola data kependudukan di Indonesia.   Seharusnya data penduduk harus benar, legal dan up to date dan siap pakai kapan saja.  Apa gunanya Depdagri jika masalah kependudukan saja tidak bisa mengelolanya dengan baik dan benar??  Bukankah mereka digaji untuk mengerjakan semua itu.  Inilah kelemahan Negara kita  mempunyai departemen yang kinerjanya ngak jelas dan tidak  bertanggungjawab sama sekali.   Kita punya Departemen Kehutanan tapi hutan kita gundul dan mengakibatkan banjir dan bencana alam lainnya.   Kita punya Departemen Tenaga Kerja tapi masalah TKI ngak pernah tuntas sama sekali.  Kita punya Departemen Riset dan Teknologi tapi ngak ada hasil riset dan teknologi tepat guna  untuk rakyat banyak.  Kita punya Departemen Pertanian tapi masih impor produk pertanian.

Seharusnya para pejabat di pemerintahan mempunyai empati dan sedikit rasa malu atas keadaan bangsa ini.  Bagaimanapun juga mereka dapat gaji dari rakyat yang seharusnya mereka layani kebutuhannya bukan sebaliknya melayani mereka.  Rasa  malu inilah yang kini sudah tidak ada lagi di diri bangsa kita.  Penyair Taufik Ismail mengatakan “Malu (Aku) Jadi Orang  Indonesia”, inilah suatu bentuk protes social atas kondisi bangsa ini.   Dimata dunia sepertinya Indonesia tidak ada harganya sama sekali, diremehkan dan warganya dilecehkan.

Di Malaysia warga Indonesia  dipanggil Indon (pembantu) dan TKI disiksa bak binatang (disetrika, ditangkapi dan diperjualbelikan), di Arab Saudi TKI dilecehkan dan diperkosa majikan, di Mesir pelajar Indonesia di Al Azhar University disetrum kemaluannya, di Negara lain tenaga kerja kita dibayar lebih murah daripada Negara lainnya.  Di Negara-negara Eropa orang Indonesia dipandang sebelah mata karena daya saingnya rendah.  Perlakuan ini membuat kita malu sebagai bangsa Indonesia.  Ini semua akibat lemahnya integritas pemimpin kita, dimana mereka hanya pintar omong tapi perbuatannya benar-benar memalukan bangsa Indonesia.

Didalam negeri bangsa ini juga seperti budak dirumah sendiri.  Lihat saja bintang-bintang sinetron di stasiun TV semuanya berwajah indo dan bernama asing.  Apalagi iklannya semua produk asing yang menjadi santapan kita sehari-hari.  Acara yang disajikan tidak bermutu dan meninabobokan kita sebagai bangsa. Seolah-olah kita bangsa yang kaya dan maju padahal rakyat kita banyak yang miskin.  Kekayaan alam kita dikuras oleh bangsa asing dan hasilnya di bawa keluar negeri sedangkan yang rakyat peroleh tinggal bencana alamnya saja.    Harta warisan anak cucu kita dirampas oleh asing yang tersisa hanya hutang yang mengunung.  Apakah ini yang kita katakan kemajuan bangsa??   Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, namun kemanapun aku melangkah aku tetap Indonesia.  Mari kita renungkan.

MALU (AKU) JADI ORANG INDONESIA

Karya TAUFIK ISMAIL

I

Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya
Dadaku busung jadi anak Indonesia
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
Dan mendapat Ph.D. dari Rice University
Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army
Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
Mengapa sering benar aku merunduk kini
II

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.

III

Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi
berterang-terang curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu
dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek
secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,
senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan
peuyeum dipotong birokrasi
lebih separuh masuk kantung jas safari,
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,
menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,
agar orangtua mereka bersenang hati,
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum
sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas
penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan
sandiwara yang opininya bersilang tak habis
dan tak utus dilarang-larang,
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata
supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,
ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,
sekarang saja sementara mereka kalah,
kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka
oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia
dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli,
kabarnya dengan sepotong SK
suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,
lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,
fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat
jadi pertunjukan teror penonton antarkota
cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita
tak pernah bersedia menerima skor pertandingan
yang disetujui bersama,

Di negeriku rupanya sudah diputuskan
kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa,
lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil
karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta,
sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan
dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh,
Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng,
Nipah, Santa Cruz dan Irian,
ada pula pembantahan terang-terangan
yang merupakan dusta terang-terangan
di bawah cahaya surya terang-terangan,
dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai
saksi terang-terangan,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang
menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.

IV

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.

1998

KPU

Iklan

About syafyess

Saya dilahirkan di kota Pekanbaru yang terkenal dengan cuaca panasnya dan daerah paling kaya di Indonesia karena diatas dan dibawah buminya menghasilkan minyak.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Blog Stats

  • 387,125 hits

Map MyVisitor

Flags MyVisitors

free counters

%d blogger menyukai ini: