//5T4T3
you're reading...
PATRIOTISME SAYA

BETAPA PARAHNYA MORAL PEJABAT KITA

Banyak sudah para pejabat kita yang terjerat hukum mulai dari Gubernur, Direktur BI, Bupati, Walikota, Duta Besar, Penegak hukum (polisi, jaksa, hakim) sampai pejabat setingkat Komisi (KPU, KPK, KPPU) bahkan anggota DPR. Ini merupakan tamparan bagi bangsa Indonesia di mata dunia (apa kata dunia??) kalau pejabatnya saja tidak bisa dipercaya bagaimana dengan rakyatnya? Korupsi dan kriminal memang saudara kandung yang seibu sebapak alias sama-sama pelanggar hukum berat. Seharusnya mereka yang melakukan kedua hal tersebut terutama para pejabat yang seharusnya memberi contoh harus di hukum berat. Seperti di China misalnya, mereka tidak pandang bulu dalam menegakkan hukum bahkan pejabat teras yang terbukti korupsi uang rakyat harus siap di hukum gantung. Bagi pejabat yang punya istri simpanan bahkan istri dua harus siap di copot dari jabatannya karena dikuatirkan akan melakukan korupsi dan penyalahgunaan jabatan karena gajinya ngak akan cukup untuk menghidupi dua orang istri. China aja yang negara komunis begitu tegas dalam penegakkan hukum, seharusnya Indonesia sebagai negara yang beragama harus lebih tegas lagi dalam menegakkan hukum. Tapi itulah Indonesia semuanya bisa “diatur” dengan aturan main sendiri. Kesalahan ini merupakan produk masa lalu mulai dari Orba yang tidak menghormati hukum sampai saat ini belum terjadi perubahan mendasar karena generasi didikan Orba masih berkuasa di Indonesia. Di samping proses rekruitment pejabat publik di Indonesia memang sarat dengan kepentingan golongan dan sesuai pesanan. Orang bisa jadi pejabat asal ada dukungan dari orang-orang penting (pejabat) ataupun parpol atau berdasarkan pesanan (sogokan), jadi tidak heran jika sudah terpilih kinerja mereka sangat payah karena akan di mintai “sesuatu” oleh orang yang meloloskan mereka. Balas budi itulah judulnya. Kasus yang menyeret Antasari Azhar merupakan contoh nyata dari ketidakbecusan pemilihan pejabat publik kita, dari awal memang sudah ada konspirasi kepentingan dari orang-orang tertentu. Makanya sangat sulit mencari pejabat kita yang benar-benar berkompeten atas jabatannya. Hal ini terjadi ditingkat yang lebih rendah misalnya dalam pemilihan anggota DPR sampai Lurah. Semuanya tidak transparan sehingga diperoleh pemimpin yang tidak layak atau tidak berkompeten dibidangnya. Imam Prasojo menyebutnya GIGO (garbage in garbage out), istilah lain yang familiar: “Mana mungkin membersihkan ruangan dengan sapu yang kotor”.
Iklan

About syafyess

Saya dilahirkan di kota Pekanbaru yang terkenal dengan cuaca panasnya dan daerah paling kaya di Indonesia karena diatas dan dibawah buminya menghasilkan minyak.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Blog Stats

  • 395,666 hits

Map MyVisitor

Flags MyVisitors

free counters

%d blogger menyukai ini: