//5T4T3
you're reading...
PATRIOTISME SAYA

BAHAYANYA MENJADI PENJILAT

Seorang lelaki bernama Yunus bin Ya’qub mendatangi Imam Ja’far Ash- Shadiq RA sambil berkata, “Berikanlah tanganmu padaku karena aku hendak menciumnya” Imam Ja’far memberikan tangannya dan lelaki itu pun leluasa menciumnya. Kemudian lelaki itu melanjutkan permintaannya, Dekatlah Kepalamu,” Imam Ja’ar mendekatkan kepalanya dan lelaki itu pun menciumnya.

Tak puas sampai disitu, lelaki itu berkata, “Berikan kakimu karena aku ingin menciumnya juga.” Imam Ja’far dengan nada tak senang berkata “Aku bersumpah bahwa setelah mencium tangan dan kepala maka angggota tubuh yang lain tak layak dicium.”

Ada dua poin penting yang dapat kita petik dari kisah tersebut. Pertama, Islam melarang segala bentuk penjilatan. Kedua, siapa pun yang dijilat hendaknya merasa tidak enak.

Rasullullah SAW bersabda, “Menjilat bukanlah termasuk karakteristik moral seorang mukmin.” (Kanzul Ummat, hadits 29364). Budaya menjilat bukan budaya seorang mukmin. Bahkan, sebenarnya budaya ini lebih dekat pada karakter seorang munafik.

Seorang penjilat sejatinya sedang membohongi dirinya sendiri. Apa yang dilakukannya berlawanan dengan lubuk hatinya yang paling dalam. Ia rela melakukan apa saja secara berlebihan demi mendapatkan perhatian dan pengakuan dari orang yang dijilatnya. Biasanya yang menjadi korban penjilat adalah mereka yang tergolong mapan dan superior, seperti atasan, pimpinan, pemegang kekuasaan dan keputusan.

Sebagaimana kisah tersebut, Yunus bin Ya’qub menjilat pemimpin agamanya, agar dengan cara itu ia mendapatkan pengakuan ketaatan dan ketulusan dari pemimpinnya. Namun, sayangnya, ia berhadapan dengan seorang pemimpin yang bukan hanya tidak mau dijilat, tapi juga melarang segala bentuk penjilatan.

Lalu mengapa Islam melarang budaya menjilat?? Menjilat adalah salah satu bentuk kehinaan. Padahal, Islam datang menjunjung tinggi kemulian dan kehiormatan manusia. Sedangkan penjilat berusaha menghinakan dirinya dan merobohkan harkat dan martabat manusia yang dibangun Islam.

Terkadang, budaya menjilat ini timbul karena kesalahpahaman terhadap makna dan pengertian tawadhu (rendh hati). Misalnya, seorang bawahan merasa perlu memuji atasannya setinggi langit demi menunjukkan loyalitasnya terhadap sang atasan. Ironis sekali kalau sang atasan mengangguk-anggukkan kepalanya alias mengamini dengan berbagai pujian itu. Sementara hal yang dijadikan bahan pujian bawahannya itu sebenarnya tidak terjadi.

Dengan demikian, atasan ini telah membiarkan kebohongan dan kepura-puraan terhadap dirinya terus berlangsung. Sesuatu yang tidak ada pada dirinya terus berlangsung. Seusatu yang tidak ada pada dirinya dikatakan ada. Bukankah ini dusta yang besar?? Bukankah ini hal yang terlarang. Ali bin Abi Thalib pernah berpesan, ”Memuji lebih dari yang seharusnya adalah penjilatan.” (Nahjul Balaghah, hikmah 347). Karena itu, hindari sejauh mungkin segala tindakan yang menjurus ke arah penjilatan.

Iklan

About syafyess

Saya dilahirkan di kota Pekanbaru yang terkenal dengan cuaca panasnya dan daerah paling kaya di Indonesia karena diatas dan dibawah buminya menghasilkan minyak.

Diskusi

One thought on “BAHAYANYA MENJADI PENJILAT

  1. waduh bagus banget artikelnya bang, semoga para pembaca bisa mengamalkannya. Ini juga merupakan pesan bagi siapa saja untuk tidak melakuakan KKN termasuk penjilatan. Semoga Allah merahmati kita,, Amiiien

    Posted by Dedy Setiawan | 29 April 2009, 5:29 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Blog Stats

  • 389,936 hits

Map MyVisitor

Flags MyVisitors

free counters

%d blogger menyukai ini: