//5T4T3
you're reading...
PATRIOTISME SAYA

KEBODOHAN ARAB SEBAGAI BANGSA


Sebelum tutup tahun 2008 kita menyaksikan tragedi kemanusian yang paling memilukan terjadi didepan mata. Agresi Israel ke Jalur Gaza yang dikuasai HAMAS telah memakan banyak korban jiwa manusia, terutama anak-anak. Telah ratusan jiwa anak-anak yang tidak berdosa menjadi korban keganasan mesin perang Israel yang tidak punya rasa malu dan kemanusiaan. Tidak punya malu karena Israel membunuh anak-anak yang tidak bisa membela diri atau seharusnya dilindungi. Setidaknya tudingan itu dengan keras dilontarkan oleh Hugo Chaves, Presiden Venezuela.

Perang tersebut merupakan pelanggaran berat terhadap kemanusiaan dan konvensi perang itu sendiri. Dalam perang jelas ada aturan main yang harus ditaati dimana penduduk sipil yang tidak terlibat perang atau melawan akan diberi perlindungan, terutama anak-anak dan perempuan. Perang dari zaman dulu hingga sekarang mempunyai satu tujuan yaitu Kemenangan. Disinilah dilema perang yang terkadang menghalalkan segala cara untuk Menang.

Perang Arab – Israel yang kini menjadi perang Palestina – Israel karena tidak semua Negara-negara Arab terlibat perang dengan Israel, bahkan ada Negara Arab yang telah menandatanggani perdamaian dan mengakui eksistensi Negara Israel. Jadi perang saat ini telah beralih ke skala yang lebih kecil yaitu perang antara Milisi Hamas – Israel atau sebelumnya Hizbullah – Israel. Keberhasilan Israel memperkecil musuhnya dalam perang di Timur Tengah merupakan suatu sukses diplomasi yang patut di acungi jempol. Bagaimanapun juga perang antara Israel dan salah satu faksi / milisi di Timur Tengah tentu menjadi lebih mudah bagi Israel untuk mengatasinya daripada menghadapi suatu negara atau banyak Negara Arab tentunya.

Negara-negara Arab saat ini merupakan kumpulan Negara dengan ideology politik yang beragam. Pan Arabisme yang pernah ada di era zaman Gamal Abdul Nasser, Presiden Mesir kini telah tinggal kenangan. Pemerintahan di negara-negara Timur Tengah kini sibuk dengan urusannya masing-masing. Terutama bagaimana mempertahankan rezim pemerintahaannya sampai mati dan mewarisinya kepada anak cucunya atau kerabatnya. Sangat mustahil jika pemerintahaan yang seperti ini berani mengambil resiko kehilangan kekuasaannya karena perang membantu salah satu negara Arab lainnya apalagi Palestina yang tidak jelas bentuknya.

Ciri negara Arab seperti inii dapat kita lihat di Mesir dimana Pesiden Husni Mubarak telah mempersiapkan putranya, Suria juga dipimpin oleh Ba’syar Al Hasad (Putra Presiden Alm. Havez Al Hasad), Yordania dipimpin oleh Raja Abdullah (Putra Alm. Raja Hussein), Saudi Arabia dipimpin oleh Raja Abdullah (Adik dari Alm. Raja Faisal), Libya dipimpin oleh Kol. Muhammar Al Khadafy juga telah mempersiapkan putranya, begitu juga dengan negara Kuwait, Oman, UEA semua memerintah berdasarkan garis keturunan atau Otokrasi. Begitu juga Saddam Hussein, Presiden Irak yang juga telah mempersiapkan salah seorang putranya, namun keburu di jatuhkan pemerintahannya oleh Amerika dan sekutunya.

Hanya Presiden Mahmod Ahmadinejad dari Iran yang pemerintahannya dipilih langsung oleh rakyat lewat Pemilu. Bagi negara-negara yang demokratis kehilangan kekuasaan merupakan hal yang biasa karena kekuasaan tersebut diperoleh melalui kepercayaan rakyat yang menitipkannya kepada yang bersangkutan. Kapan saja kekuasaan tersebut bisa ditarik kembali jika rakyat mengingginkannya.

Jika dibandingkan dengan negara Israel maka negara-negara Arab tersebut Sangat jauh tertinggal dari segi demokrasi terutama dibidang pemerintahan. Israel merupakan negara demokratis satu-satunya di Timur Tengah dimana pemerintahannya mendapat dukungan penuh dari rakyatnya. Oleh sebab itu negara Israel Sangat kuat dan bisa bertahan ditengah kepunggan musuh-musuhnya. Tidak ada pemerintah yang bisa bertahan lama tanpa dukungan penuh dari rakyatnya terutama saat perang. Perang membutuhkan semangat berkorban dan jiwa patriotisme yang tinggi. Itu semua dimiliki oleh bangsa Israel dan tidak dimiliki oleh rakyat Palestina yang terbelah menjadi dua, yakni HAMAS dan FATAH.

HAMAS dan FATAH bukannya saling membantu menghadapi Israel Namur mengharapkan salah satu diantara mereka KALAH. Jika diantara mereka sebangsa saja tidak saling menolong apalagi yang bisa diharapkan dari Negara lain. Bagi suatu bangsa yang ingin MERDEKA tidak ada modal yang lebih besar selain PERSATUAN. Kelemahan ini dapat dimanfaatkan oleh Israel untuk menindas rakyat PALESTINA. Kemerdekaan bangsa Palestina sulit terwujud jika diantara mereka sendiri tidak bersatu dan berusaha meraihnya. Apalah artinya merdeka dari bangsa lain Namun terjajah oleh bangsa sendiri.

Renungan Jum’at, 9 Januari 2009.

Iklan

About syafyess

Saya dilahirkan di kota Pekanbaru yang terkenal dengan cuaca panasnya dan daerah paling kaya di Indonesia karena diatas dan dibawah buminya menghasilkan minyak.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Blog Stats

  • 394,023 hits

Map MyVisitor

Flags MyVisitors

free counters

%d blogger menyukai ini: