//5T4T3
you're reading...
PATRIOTISME SAYA

NASIONALISME TENTARA NASIONAL INDONESIA

TNI lahir dari rakyat Indonesia yang berjuang bersama dalam merebut dan menegakkan kemerdekaan. Sejarah panjang TNI yang lahir sebelum kemerdekaan sampai dengan sekarang telah menoreh tinta emas dalam catatan sejarah bangsa ini. Semangat yang tinggi dalam membela setiap kepentingan Negara membuat TNI berada di garda depan dan untuk itulah TNI dilahirkan oleh ibu pertiwi. Tak ada yang bisa membantah bahwa TNI merupakan alat pertahanan Negara dalam menjaga dan membela tanah air. Di Negara manapun Tentara Nasional hanya patuh dan taat kepada Negara dalam hal ini kepada kepala pemerintahan yang sah. Namun sejalan dengan perkembangan waktu dimana ancaman peperangan tidak/belum ada dalam suatu Negara maka TNI terkesan sedang menganggur. Kerjaannya tiap hari hanya latihan, senam, dan upacara saja. Tentu sebagai anggota Tentara Nasional yang menerima gaji dari Negara dalam hal ini dari uang pajak rakyat, status ini menjadi beban mental yang berat, walau bukan suatu kesalahan.

Berkaca dari tugas dan fungsi Tentara Nasional sebagai benteng pertahanan suatu negara maka sudah selayaknyalah jika setiap ancaman baik itu yang datang dari dalam maupun dari luar negeri mendapat respon dari Tentara Nasional. Berawal dari respon inilah kasus-kasus pelanggaran HAM maupun kekerasan lainnya menyeret Tentara Nasional ke jurang masalah yang dalam. Kita tentu masih ingat kekerasan yang terjadi di Lampung, Tanjung Priok, Timor-timor maupun tragedy Mei 1996 yang menjadikan petinggi-petinggi Tentara Nasional ke meja hijau sebagai tersangka pelanggaran hukum. Jika kita lihat dari sisi kewajiban Tentara Nasional menjaga integritas Negara dan Bangsa kasus-kasus tersebut memilki artificial tersendiri. Apalagi jika dikaitkan dengan tugas yang diemban saat itu. Umpamanya saja seorang komandan Tentara yang mendapat tugas mengamankan wilayahnya dari setiap ancaman instabilitas dalam bentuk apapun tentu mempunyai hak “kekuasaan” melakukan apapun yang terbaik bagi tugas yang sedang diembannya. Tentu akan menjadi bencana baginya jika ancaman itu dibiarkan begitu saja terjadi diwilayahnya. Bagaikan buah simalakama, keputusan apapun yang diambil tentu akan ada resikonya. Dan resiko itu merupakan konsekwensi dari suatu jabatan.

Sangat menarik jika mengkaji resiko dalam setiap tindakan dari aparat Tentara Nasional saat ini. Dari segi tugas membela Negara maka Tentara diperbolehkan melakukan apa saja dalam menjalankan tugasnya, termasuk juga membunuh. Sangat aneh rasanya kalau tentara tidak boleh membunuh “musuh”, karena hukum yang berlaku dalam suatu pertempuran kalau ngak membunuh ya di bunuh. Tinggal pilih mana yang enak. Tentu tidak ada yang mau mati konyol karena mereka dilatih dan dibayar untuk membela Negara termasuk juga membela nyawa mereka sendiri. Sangat aneh juga kalau tentara mau nembak musuh ngomong dulu,: Gua tembak ya, Dorr!!! (Supaya ngak dituduh melanggar HAM). Jika kita lihat kebrutalan tentara AS dan Israel dalam membunuh orang-orang yang tidak berdosa karena salah identifikasi sasaran maupun tindakan refresif yang berlebihan tanpa ada pihak yang berani mempersalahkannya terutama dari dalam negeri kita, tentu patut dipertanyakan jika mereka hanya menyalahkan Tentara Nasional saja. Apalagi jika melihat operasi militer AS dan Israel lewat udara yang menjatuhkan bom beratus-ratus kilogram tanpa melihat sasaran atau berdasarkan laporan inteligen darat yang rentang waktunya cukup lama, bisa jadi sasarannya telah berubah menjadi sasaran sipil. Kejadian seperti ini tentu merupakan pelanggaran HAM berat yang pantas untuk mendapatkan hukuman Internasional. Tapi….. mengapa diam???

Sebagai anak bangsa Indonesia sudah selayaknya jika kita menempatkan kepentingan bangsa diatas segalanya dengan pengorbanan apa saja seperti yang telah dicontohkan oleh para pejuang bangsa ini yang telah gugur di medan tempur dalam merebut dan menegakkan kemerdekaan. Tidak ada yang lebih besar dan mulia karena Indonesia adalah tanah air kita, tempat kita dan anak-anak cucu menikmati hidupnya. Rasa Nasionalisme ini tidak dapat ditawar-tawar lagi dan berapapun harganya harus dibayar tunai. TNI sebagai garda terdepan harus mempunyai semangat juang dan nasionalisme yang lebih besar karena merupakan benteng pertahanan suatu negara. I Love TNI…………..

Renungan Jum’at: 12 Desember 2008.

Iklan

About syafyess

Saya dilahirkan di kota Pekanbaru yang terkenal dengan cuaca panasnya dan daerah paling kaya di Indonesia karena diatas dan dibawah buminya menghasilkan minyak.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Blog Stats

  • 389,936 hits

Map MyVisitor

Flags MyVisitors

free counters

%d blogger menyukai ini: